KEHILANGAN PERMATA PEDALAMAN
(Oleh Astina Hotnauli Marpaung)
“Mereka bangga pada rekening siluman. Dasar
koruptor bajingan!”
“Apa yang
membuatmu marah?”, wanita berkacamata itu menghimpun keberanian, bertanya penuh
hati-hati.
“Mereka
menjijikkan, menutup nurani dari jutaan
anak di pelosok negeri yang menjerit,
tangan yang menengadah, bibir yang bergeming, hati yang tercabik dan tertindas oleh
kebodohan”. Sukma menyandarkan kepalanya pada pohon, perlahan menutup mata,
lalu menggali semua amarah di kepala.
“Lalu?”
“Lalu mereka
dengan lantang berbicara di layar kaca, dengan atau tanpa media mengabarkan,
bahwa mereka mengupayakan pemerataan pendidikan, kesejahteraan guru dan
berlaksa program yang terlihat menjanjikan. Faktanya, mereka tidak pernah memakai anggaran untuk turun ke lapangan.”
Wanita berkacamata itu menepuk lembut bahu Sukma, “Kamu bekerja di sekitar
mereka?”
“Benar. Mataku melihat gedung mewah bediri tanpa seorang guru yang bisa
hadir setiap hari. Telingaku mendengar seorang pemimpin yang bangga
menyalahgunakan dana operasional sekolah. Hatiku tersayat melihat ratusan anak yang
buta aksara. Tetapi….”
Sukma memalingkan
wajah, menatap langit sembari menahan air mata.
“Tetapi apa?”
“Tetapi sendiriku
tak berdaya. Aku tak kuasa mengajar beberapa kelas sendirian. Suaraku disana
tidak berpengaruh. Aku orang asing di provinsi kelahiranku. Aku takut.”
“Kamu takut ditolak?”
Sukma mengangguk pelan. Dia kecurian kata.
“Itu artinya tugasmu bertambah satu, yaitu mencintai”, tukas wanita
berkacamata itu dengan mata berbinar.
“Aku tak ingin gegabah menyebut ini cinta, tetapi setiap hari ada rindu
yang berkecamuk untuk segera mengajari para permata pedalaman itu. Harus
kusebut apa rasa ini? Benci dan iba berpacu, beradu kelewat liar.”
“Cinta sudah
membawamu sejauh ini, maka bertahanlah. Cinta mengajarkanmu untuk membenci
hal-hal yang tidak baik seperti korupsi, makan gaji buta dan manipulasi data.
Cinta melatihmu memeluk para buta aksara dengan penuh sabar dan sayang yang tiada
berkesudahan. Selalu ada yang membenci seorang yang jujur dalam bekerja, mereka
ingin melihatmu gagal dan mundur perlahan. Silahkan kecewakan mereka dengan terus berkarya bagi pendidikan
Indonesia”, balas wanita berkacamata itu sembari melempar senyum.
Sukma terdiam. Dia menghela nafas, menghembuskan perlahan, kemudian
mengulanginya beberapa kali. Wanita berkacamata itu berusaha memahami keadaan,
bahwa Sukma sedang merenung panjang.
“Seandainya saja”,
Sukma memecah keheningan.
“Seandainya apa?”
“ Seandainya dari
Dinas Pendidikan ada kunjungan wilayah, memeriksa kesesuaian data dan fakta,
mengevaluasi kinerja pegawai, dan tanpa aba-aba datang kapan saja lalu memecat
siapa saja yang lalai dalam tugasnya. Mungkin tidak akan ada gedung mewah
dihuni para anak buta aksara dan tidak punya cita-cita.”
Wanita berkacamata
itu menarik tangan Sukma, mengepalnya, sejurus kemudian berkata, “Indonesia
butuh sarjana pendidikan yang memiliki
banyak cinta seperti kamu.”
“Huhhhh. Jika berandai terus-menerus tidak akan ada habisnya. Pendidikan
Indonesiaku yang malang, para terdidik yang menyemat gelar S.Pd dan M.Pd malah
menganggap Undang-Undang tentang sistem
pendidikan nasional tidak lebih berharga dari kata-kata diplomatis sosial media
mereka Tiap tahun, pemerintah membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil,
dan tiap tahun pula mereka yang rekeningnya bengkak bisa dengan mudah mengurus
pindah, tak peduli bagaimana nasib pendidikan di desa yang dipilihnya ketika
melamar. Egois dan tidak nasionalis, demi dipandang sejahtera karena seorang
abdi negara.”
Alis kiri Sukma naik, dia mengernyitkan dahi dan senyum sinis.
“Kamu kecewa pada
pada PNS yang tidak berintegritas itu?”
“Juga pada diriku
sendiri. Kecewa, mengapa aku tidak bisa lulus ujian CPNS waktu itu. Aku ingin
ambil bagian memperbaiki sistem pendidikan di daerah ini, dan salah satunya
jalan untuk bisa memperbaiki adalah aku harus ada di dalam instansi
pemerintahan. Aku ingin jadi PNS yang berintegritas.”
“Kamu mencintai
anak-anak ini, bukan? Kamu menikmati hidup di pedalaman?”
“Sangat.”
“Boleh aku memberimu sedikit tanggapan dan saran?”
“Aku membutuhkannya.”
“Ibu Sukma! Terima kasih sudah berjuang untuk pendidikan di pedalaman. Hari ini atau besok, mungkin namamu akan
dilupakan. Kamu hidup dengan segala keterbatasan di tengah hutan, jauh dari
keluarga, listrik terbatas, jaringan internet tidak ada, setiap hari
mengharapkan hujan turun untuk dimasak agar kamu bisa minum, mandi dan
keperluan lain ke sungai, makan seadanya, itu semua tidak mudah. Bahkan aku
belum tentu bisa. Saat ini mungkin kamu sedang jenuh karena setiap hari
menabung rindu pada keluarga yang jauh, dilema karena umur yang semakin tua
tetapi jaminan karir tidak pasti. Bahkan mungkin pernah bertanya dalam benakmu,
semua ini kamu lakukan untuk siapa? Guru PNS memanglah sejahtera, dan kamu
sudah berusaha, tetapi Tuhan belum mempercayakan. Bukan karena kamu kurang iman
atau tidak layak, tetapi percayalah bahwa promosi itu datang dari Tuhan. Aku
percaya, sesuatu yang besar, entah itu karir ataupun cinta, sesuatu itu sudah
Tuhan persiapkan untukmu karena kamu sudah naik level. Hidup bukan tentang
pencapaian, tetapi perjalanan. Aku bangga padamu, aku terinspirasi oleh
perjalananmu sebagai pendidik. Tidak semua sarjana memakai ijazahnya untuk
Indonesia yang lebih berarti. Semangat, Sukma!”
Sukma menangis.
Sukma, seorang guru pedalaman yang setiap hari berjuang memberantas buta
huruf di pelosok negeri, sedang berada dalam titik jenuh, menyalahkan banyak
hal, menginginkan banyak hal. Tetapi melalui temannya, wanita berkacamata,
semangat Sukma kembali terpompa. Dia bertahan di pedalaman, berjuang, meski
tidak dapat dukungan dari sejawat, agar lentera pendidikan pelosok tetap
bersinar.
“Ada lagi yang ingin kamu ceritakan?”, wanita berkacamata itu menatap wajah
Sukma yang sedari tadi menteskan air mata.
“Indonesia telah kehilangan. Indonesia kehilangan para sarjana pendidikan
yang memiliki hati untuk mengabdi, Indonesia kehilangan abdi negara yang
mencinta negeri, Indonesia kehilangan guru yang marah dengan jujur. Anak-anak menjadi
korban, bahkan sampai ada yang membenci pendidikan. Anak-anak tidak mempunyai
cita-cita selain menjadi buruh atau petani biasa, dijajah oleh kebodohan yang
disengaja oleh para sarjana terdidik.”
Wanita berkacamata itu menimpali, “Kehilangan memang selalu menyakitkan.
Pendidikan di pelosok Indonesia sedang menangis menjerit. Indonesia tidak akan
larut dalam kesedihan kehilangan ini, karena kamu hadir menghibur lara
Indonesia.”
Sukma mengamini.
“Sekarang aku tahu bahwa kehilangan itulah yang membuatku marah.”
Tentang penulis:
Astina Hotnauli Marpaung, seorang guru pedalaman di Nias Selatan. Lahir di Demak
Bayu, 14 April 1994, lulusan S1 Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Riau.
Diedit oleh:
Linggom Sahat Martua Marpaung